Sabtu, 08 Oktober 2011

CERITA SEPAK BOLA II, Last Man Standing

Jeruju Besar, 1999

France World Cup '98

Setahun setelah Perancis mengangkat trofi piala dunia '98 yang diadakan dinegaranya, nun jauh di sebuah desa yang terletak di negeri yang sepak  bolanya ancur lebur, sekelompok anak remaja bermain sepak bola dilapangan yang bisa di bilang seperti sawah(sepertinya emang sawah deh...). Dan itu adalah aku dan teman-teman sekampungku.

Setelah tamat SMP, aku tidak tinggal bersama nenekku lagi. Aku meninggalkan parit jepang menuju desa jeruju besar, tempat tinggal ibuku. Ternyata sepak bola juga digandrungi remaja-remaja didesaku.

Tapi kali ini banyak perubahan dalam karir sepak bolaku. Aku tidak harus bermain di lapangan volly lagi. Kali ini aku bermain di lapangan sepak bola yang sebenarnya, yah walaupun masih banyak lumpur disana-sini. Bergantinya lapangan juga berdampak perubahan pada posisi bermain ku.

Ceritanya, pada suatu hari kami bertanding melawan tim dari desa sebelah. Seperti biasa aku bermain di posisi sayap kanan. Mungkin karena pengaruh perubahan besar lapangan, fisikku tidak mampu menyesuaikannya. Ternyata fisikku lemah. Tenaga ku cukup untuk melakukan serangan kejantung pertahanan lawan. Tapi pada saat menerima serangan balik, tenaga ku terkuras. aku tidak mampu berlari kedaerah bawah untuk membantu pertahanan.

Mungkin hal ini membuat teman-teman ku jengkel. Salah satu teman ku menyaran kan agar aku berpindah posisi. Ia bertanya kepadaku, apakah kamu mau tau bagaimana caranya bola datang kearah mu tanpa harus dikejar. Mau kataku. Teman ku pun memberi saran, jadilah kau seorang "KIPER".

Kiper

Ah, tidak mungkin. Menjadi kiper sangat tidak menyenangkan, yang menyenangkan hanya bisa megang bola pake tangan. Posisi yang paling tidak diminati. Kalo tim kita menang, yang akan ditanya oleh orang adalah, siapa kah penyerang nya. Akan tetapi kalau kita kalah, yang di tanya adalah, siapakah kipernya. Beban tanggung jawab yang besar. Pemain tengah kehilangan bola, masih bisa di cover sama bek, bek kehilangan bola, masih ada kiper yang mengamankan bola. Tapi kalau kiper kehilangan bola, masih ada gawang sih yang menahan bola supaya gak melambung jauh kejalan, kebon orang atau masuk ke hutan. Tapi kalo bola udah masuk gawang sama aja bohong, kebobolan namanya.

Namun dari pada gak dimainin, yah terpaksa harus menjadi kiper. Bola datang bertubi-tubi kearah ku. Tapi anehnya aku seperti nya tau kemana arah datangnya bola. Beberapa tendangan berhasil ku tepis, membuat penyerang lawan frustasi. Aku menikmati peran ku sebagai kiper. Sepertinya aku telah lama menjadi seorang kiper.


Namun pada akhirnya gawangku kebobolan juga pada akhir pertandingan. Dengan lapang hati kami harus menerima kekalahan. Aku terduduk di bawah gawang. Tiba-tiba dari arah samping, sesepuh desa menepuk pundakku. Ia pun berbicara kepadaku:

"Sudah lama aku tidak melihat kiper seperti dirimu. Memang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Dulu kami mempunyai sebuah tim yang sangat tangguh di kampung kita, dan kau tau, nak, ayahmu adalah kiper kami. Berkat ayahmu lah kami dapat menjadi juara. Dan permainan mu tadi mengingatkan aku kepada dirinya. Ayahmu pasti bangga kepadamu, dan juga kakekmu. Ya, kakek mu dulu semasa hidupnya juga bermain sebagai seorang kiper. Kau adalah generasi ketiga di keluarga mu yang menjadi seorang kiper."

Sesepuh desa kembali menepuk bahu ku, dan kemudian pergi meninggalkan ku. Aku masih tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Kini aku sadar mengapa aku sangat menikmati menjadi seorang kiper pada pertandingan tadi. Ini pasti bakat alam, bukan... ini adalah warisan bakat dari kakekku dan juga ayahku.
Kini aku bangga menjadi seorang kiper. Aku bertekad akan terus berlatih untuk membuktikan, bahwa aku bisa menjadi kiper sehebat ayahku.

Seorang kiper mempunyai beban tanggung jawab yang besar di pundaknya. Dan berusahalah untuk menjaga tanggung jawab itu.

Dan terakhir...

Jangan menyerah untuk jadi yang terbaik karena kiper di ciptakan untuk jadi pemenang.

(bersambung)