Jumat, 07 Oktober 2011

CERITA SEPAK BOLA 1, The Beginning

Parit Jepang, 1997

Kira-kira saat SMP pertama kalinya aku jatuh cinta dengan si kulit bundar, saat menonton pertandingan Lazio di tipi. Sejak saat itu aku mengikrarkan diri menjadi suporternya Lazio dan Manchester United. Dua tim ini lah yang selalu aku tonton. Maklum aja, saat itu di Pontianak cuma ada dua channel tipi swasta, RCTI nyiarin liga itali, SCTV nyiarin liga inggris.

SS. Lazio '97
Manchester United '97


Nah demam sepak bola juga menyerang kawan-kawan sekampung ku dan kami pun tertarik untuk bermain sepak bola. Kami pun berkumpul dibawah pohon rambutan untuk membahas lokasi yang tepat untuk bermain bola. Kami sepakat untuk berpencar guna mencari lokasi yang tepat.

Tenyata susah juga mencari lapangan bola. Ada tanah lapang ternyata area pekuburan. Setelah putus asa mencari, kami pun berkumpul ditempat semula. Ditengah keterputus-asaan, tiba-tiba aku teringat, disebelah surau ada bekas lapangan volly. Kami pun bergegas pergi kesana, dan ternyata, GILAAAAA!!!... semak banget, rumput setinggi kami memenuhi lapangan. Akhirnya kami putuskan sabtu sore adalah jadwal kami untuk membenahi lapangan.

Sabtu sore kami pun berkumpul, ada yang membawa parang dan arit untuk menebas rumput, ada juga yang membawa sekedar makanan dan minuman bahkan ada juga yang hanya sekedar membawa diri dan tenaganya (ini saya sendiri..hehehe).

Akhirnya dalam dua jam rumput lapangan telah kami sikat habis. dua gawang telah kami buat. Tiang net volly udah kami cabut supaya orang-orang gak maen volly lagi karena lapangan ini udah jadi lapangan bola kami. Hahahahahha. Selanjutnya bersiap bermain sepak bola....

Tapi, tunggu. sepertinya ada yang kurang. Setelah kami pikir-pikir... CELAKAAAA!!!... bagaimana kami mau main bola... kalau bola aja kami gak punya...

Dan akhirnya kami putuskan untuk patungan beli bola. butuh waktu sebulan untuk bisa membeli bola baru. maklum anak SMP, jajan nya sedikit, apalagi aku yang tinggal bersama nenek ku.

Bola yang di tunggu-tunggu pun datang. Kami bermain dengan gembira. Aku memposisikan diriku sebagai sayap kanan seperti pemain Manchester United, David Beckham.

Di tengah permainan, aku melihat teman satu tim ku yang berada di sayap kiri menggiring bola. Bek tim lawan pun menutupi ruang tembak nya. Namun dengan sedikit gocekan ia dapat melewati bek lawan dan memberikan umpan lambung ke jantung pertahanan lawan. Bola melambung namun tidak bisa di jangkau penyerang kami. Bola mengarah kearah ku dan tanpa banyak basa-basi lagi bola kutendang dengan tendangan "first time" dan...

GOOOOOLLL!!!. Aku mengangkat tangan. Teman-teman bergembira.

Namun tanpa kami sadari, bola memantul dan berhenti bergulir tepat ditengah jalan raya. Dan tiba-tiba, DUAAAR!!!!, tepat dihadapan kami, bola kami pecah di lindas truk yang melaju.

Kami terdiam. Kami tidak berani melihat bentuk bola kami sekarang yang sudah tidak bundar lagi. Gol ku menjadi tak berarti, karena menjadi gol pertama dan gol terakhir di pertandingan hari itu.

Kami pulang dengan kecewa. Sepertinya butuh waktu sebulan lagi bagi kami untuk dapat bermain bola kembali. Sebulan... waktu yang cukup buat para rumput untuk dapat tumbuh kembali memenuhi lapangan kami.

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar